Puisi Karya Kurniawan

Karya Puisi Kurniawan
Kurniawan

Resep Masakan

Resep Masakan 1

Angin berembus menembus setiap yang bercela, membawa sayatan-sayatan biola yang mendayu-dayu. Jika tak ingat resep masakan ibu, angin menerjang membawa terbang hingga tenggelam ke dalam sayatan-sayatan biola.

Resep Masakan 2

Kala aku hendak bepergian, ibu tak pernah lupa menyisipkan resep masakan ke dalam dadaku. Kata Ibu jika di jalan bertemu anjing haus, perlakukan ia dengan baik, seperti yang tertuang dalam resep masakan, kata ibu saat ada kesempatan di hadapkan pelacur penggoda, pandang ia dengan jijik seperti yang tertulis dalam resep masakan.

Resep Masakan 3

Suatu malam aku menelpon ibu, mengadukan kerinduan anaknya. Ibu bilang dengan kasih sayang, jauh dari keluarga boleh, jangan sertakan jauh dari Tuhan. Ketika ingar bingar dunia merasuki, ingat resep masakan, berpegang padanya akan selamat, melupakanya tentu celaka.

Tumis Kangkung

Tumis Kangkung 1

Tak ada lauk, tumis kangkung pun jadi, bersanding gagah dengan nasi putih. Tak ada yang lain, hanya mereka berdua menguasai singgasana meja makan. Ditelan saja! pada akhirnya semua makanan akan jadi tahi, itu yang ibu bilang dengan lahap

Tumis Kangkung 2

Tumis kangkung menu yang sederhana, darinya ibu ingin anaknya belajar mensyukuri, tak perlu menggerutu ingin yang mewah. Apabila tak terjangkau oleh lengan, yang sederhana pun bisa bikin kenyang, lagi pula hidup cukup sederhana, manusianya saja berbeda isi kepala. Keras lembut pahit manisnya hidup, dijalani saja, pada akhirnya semua akan sampai pada satu titik yang sama.

Nagasari

Ia hanya akan disentuh oleh orang yang tulus
Boleh saja dihinggapi lalat
Tapi tetap utuh dan suci
Andai mereka ingin belajar pada nagasari
Tidak akan ada penis berdiri di pinggir jalan

Perkedel Jagung

Kemarin aku punya mimpi
kelak suatu hari nanti memiliki istri
yang cekatan memasak sayur jagung
agar tak tersesat di dapur istri tetangga.

Dahulu aku selalu berhasrat
Esok kalau sudah saatnya
Ku ingin punya istri, yang piawai merebus jagung
biar tak capek-capek lagi keluar rumah mencari jagung rebus.

Pada akhirnya aku menuruti nasihat ibu
Di meja makan ibu berceramah di hadapan anak laki-lakinya.
Wanita dinikahi karena empat perkara
karena piawai merebus jagung
karena pandai membakar jagung
karena cekatan memasak sayur jagung
karena bisa membuat perkedel jagung.

Ibu lalu diam mengatur napasnya
Menatap lekat-lekat anak laki-lakinya
maka pilihlah yang bisa buat perkedel jagung, niscaya kalian beruntung.

Ibarat Burung

Apalah sekarang daku ini?
Ibarat burung pelikan, terdampar di gurun tandus
demi amanat yang diemban
belum bisa pulang, ke pangkuan ibunda.

Bagaimanalah sekarang daku ini?
ibarat burung merpati tersesat di lautan luas
kedua sayapnya patah
hanya bisa berkutat, dalam perahu sempit.

Rela

Aku lebih rela mati di tengah hutan
menjadi santapan binatang buas
daripada hidup di tengah-tengah kegaduhan.

Orang-orang berlomba-lomba menuntaskan ambisi
segala cara dilalui, peringatan kitab diabaikan.

Aku lebih rela mati di tengah laut
menjadi bangkai busuk kemudian di seret ikan-ikan
menyisakan tulang-tulang
daripada hidup di tengah-tengah orang
wajah bak malaikat nafsu kesetanan
demi harta dan takhta, agama disingkirkan.

Honorer

Tanggal 22 berdering keras dalam ingatan
mungkin kau sudah tahu apa yang paling aku rindu padanya
ya, rumah makan pertigaan jalan di kampung kita
bukan tentang pangsit, gado-gado dan nasi goreng
tentang celotehmu gurih sekalipun aku geram mendengarnya.

600 ribu perbulan upahmu yang kau syukuri
tidak ada kerutan di wajahmu
menuntut pada penguasa atau pada Tuhan untuk dilebihkan.

Ikhlas itu yang bisa kutebak dari dalam hatimu
Ah, ironi bagiku, 12 tahun kau menempuh pendidikan
hanya diupah 600 ribu satu purnama sebagai honorer.

Renungan Pendek

Banyak hari-hari pergi
terhempas dari tangkainya.
Diriku masih berkabung sunyi
di keramaian sekelas pasar pun, aku merasa sepi.

Satu-satu mimpi-mimpi itu pergi
menyisakan rambut kian berontak panjang
bersama seruput kopi pekat di malam yang sendu.

Banyak orang-orang menertawai hingga memaki
Aku sama sekali tak mau peduli
Tak harus mereka mengusik sepinya hidupku
Juga tak pantas aku mencampuri bahagianya hidupnya
karena masing-masing kita punya jatah hidup untuk diselesaikan
juga pada akhirnya hidup hanyalah persoalan persiapan kematian.

Kepala Desa

Kepala Desaku yang terhormat
dana desa tak cukupkah untuk pembangunan jalan? panjangnya tidak lebih dari 100 meter, lebarnya hanya beberapa jengkal.
dana desa tak cukupkah untuk mengupah para buruh, jumlahnya 7 sampai 10 kepala?
dana desa tak cukupkah untuk pengadaan pasir, batu, dan semen
material untuk membangun jalan?

Ahh,
jalan di dekat rumahku terabaikan
pembangunannya macet tak terurus lagi
setahun sudah meraung-meraung minta dijamah
lumut-lumut berkeliaran pada pondasi jalan
semak belukar menari riang bikin risih memandang
tetangga jengkel dijadikan tempat pembuangan sampah.

Kepala Desaku yang terhormat
umurmu seumur jagung lagi memegang takhta.
Jangan heran esok atau lusa
kau jadi buah bibir orang-orang
karena tak selesai membangun jalan.

Tentang Penulis

Kurniawan, bernama pena Mawan Belgia. Lahir di Batupapan, 15 November 1997. Beralamat di Dusun Batupapan Tengah, Desa Papalang, Kec. Papalang,
Kab. Mamuju, Prov. Sulawesi Barat. Hobi Membaca buku, menulis dan bergosip tentang sepak bola. Kontak: Nomor telepon 082293818194, email mawan9715@gmail.com, facebook Mawan Belgia, instagram mawan_belgia dan twitter @mawan_sastra. Masih menjadi mahasiswa di Universitas Sulawesi Barat mengambil jurusan Matematika.

Poetry Publisher
Poetry Publisher Spesialis penerbitan buku sejak 2016

Posting Komentar untuk "Puisi Karya Kurniawan"